BAB 6 :
Mengenali Peluang dan Memilih Jenis Usaha
Banyak
pengusaha yang mengawali usahanya dalam situasi yang serba sulit, menghadapi
kondisi yang tidak pasti atau bahkan sering menemukan jalan buntu, dan akhirnya
frustrasi atau hanya menunggu saja dan tidak melakukan apa pun Meskipun
memiliki uang yang cukup banyak sebagai modal awal usaha atau modal kerja belum
tentu bisa memberikan jaminan akan suksesnya suatu usaha. Terlebih jika moda
yang dimiliki pas-pasan, bahkan mungkin tidak punya modal sama sekali. Hal ini
tenti akan membuat kondisi semakin sulit.
Dalam kondisi seperti itu, apa yang
harus kita lakukan? Berusaha mewujudkan impian menjadi orang sukses tanpa
persiapan yang matang, hasilnya menjadi tidak jelas.
Kerugian
besar yang dapat menghabiskan modal yang dimiliki, sebenarnya dapat dihindari
atau paling tidak dapat ditekan sekecil mungkin jika kita bisa memilih usaha
yang benar-benar tepat, sesuai dengan kondisi dan kemampuan kita, yaitu usaha
yang kita sukai atau kita mempunyai kompetensi dalam bidang usaha tersebut.
Salah satu alat untuk mengukur semua
hal yang mungkin dan tidak mungkin dilakukan oleh usahawan sebagai penilaian
awal dan pemberian informasi penting, yaitu menggunakan analisis terhadap
kelemahan, kekuatan, peluang, dan ancaman (strength, weaknesses, opportunities,
and threats) atau yang lebih dikenal dengan sebutan analisis SWOT. Berikut
adalah cara sederhana yang dapat dilakukan dalam menerapkan analisis SWOT:
a. kekuatan
Melihat kekuatan yang dimiliki
seperti lokasi, sumber-sumber bahan baku yang mudah didapat, mudah dijangkau
oleh konsumen atau pelanggan, dan kekuatan lainnya yang dapat dimanfaatkan.
Contoh: lokasi di dekat kampus atau mal dapat dikembangkan menjadi kos-kosan,
warnet, rental komputer, dan masih banyak lagi.
b. kelemahan
Melihat kelemahan yang dimiliki agar
kita tidak memaksakan diri melakukan usaha yang sebenarnya tidak dapat
dilakukan karena kita memiliki kekurangan tertentu. Contoh: sebaiknya jangan
membuka usaha rental komputer, tetapi tidak mengetahui sama sekali keterampilan
dalam mengoperasikan komputer.
c. peluang
Melihat peluang yang dapat
dimanfaatkan dan memberikan keuntungan. Contoh: membuka usaha fotokopi di
lingkungan dekat kampus, membuka usaha kantin di lingkungan perkantoran, dan
lain-lain.
d. ancaman
Melihat ancaman terhadap usaha-usaha
yang berisiko tinggi, memiliki siklus hidup yang pendek, dan tidak terukur.
Terlebih lagi jika pesaing-pesaing kita memiliki kemampuan yang lebih baik dari
kita. Contoh: investasi saham, di mana kita tidak memiliki cukup ilmu tentangnya
atau bermain di pasar yang pelakunya sudah sangat banyak.
Sumber :
Buku Kewirausahaan "Membangun Usaha Sukses Sejak Usia Muda", Salemba
Empat 2011, Jakarta (Universitas Mercu Buana)
BAB 7 :
Perencanaan dan Operasional Usaha
Lokasi sangat menentukan keberhasilan sebuah usaha.Untuk memilih suatu
usaha harus dipertimbangkan sesuai keperluannya,yaitu antara lain:
1. Lokasi kantor
2. Lokasi pabrik
3. Lokasi gudang
4. Lokasi cabang
1. Lokasi kantor
2. Lokasi pabrik
3. Lokasi gudang
4. Lokasi cabang
Pemilihan lokasi memerlukan kemampuan seni yang tinggi.Beberapa pertimbangan yang harusdi perhatikan dalam penentuan lokasi:
1. Dekat dengan pasar atau pelanggan
2. Dekat dengan sarana transportasi
3. Pasokan tenaga kerja terjamin ketersediaan nya
4. Listrik,air dan prasarana lainny
5. Dekat dengan lembaga keuangan
6. Dekat dengan industry kawasan pendukung
7. Dekat dengan pusat pemerintahan
8. Lokasi dapat dikembangkan
9. Pertimbangan Sosial budaya masyarakat lingkungannya
10. Hukum yang berlaku dilingkungan tersebut
11. Dekat dengan pelabuhan, bandara, stasiun, dan terminal
12. Besarnya nilai investasi untuk lokasi
13. Nilai ekonomis masa datang dari lokasi
14. Iklim dan tekstur tanah serta pertimbangan lainnya
Tata letak fasilitas dapat menentukan sejumlah frekuensi baik dalam produk
maupun operasi.
Sumber : Buku Kewirausahaan "Membangun Usaha
Sukses Sejak Usia Muda", Salemba Empat 2011, Jakarta (Universitas
Mercu Buana)
BAB 8 :
Mengelola Keuangan Usaha
Pada dasarnya, setiap usaha pasti memerlukan modal. Modal usaha dapat
berupa modal dana dan modal
nondana berupa keahlian dan keterampilan. Ada istilah Cina yang mengatakan
bahwa tidak ada untung tanpa ada modal. Dengan demikian, pastilah kita
memerlukan modal dana untuk memulai usaha. Dalam bab ini akan dibahas berbagai
permasalahan menyangkut permodalan. Hal yang harus kita ketahui adalah berapa kebutuhan modal usaha kita, dari mana sumber modal
tersebut, dan bagaimana mengelola modal tersebut, memilih investasi yang
benar, dan proses mencatatat dana, serta cara mengelola keuntungan yang kita
peroleh.
Berikut adalah
bahasan teori mengenai permasalahan dana
tersebut:
1. Mengetahui Kebutuhan Modal Usaha
Pada prinsipnya, dalam
menjalankan usaha terdapat tiga jenis modal yang diperlukan, yaitu modal investasi awal,
modal kerja, dan modal operasional.
a. Modal Investasi Awal
Modal investasi awal adalah modal yang diperlukan di
awal usaha, biasanya dipakai untuk jangka panjang. Contoh modal ini adalah bangunan serta peralatan seperti
komputer, kendaraan, perabotan kantor, dan barang-barang lain yang dipakai
untuk jangka panjang.
b. Modal Kerja
Modal kerja adalah modal yang harus kita keluarkan untuk membeli atau
membuat barang dan jasa yang kita hasilkan.
Modal kerja bisa dikeluarkan setiap bulan, atau setiap datang permintaan.
c. Modal Operasional
Modal yang terakhir
adalah modal operasional. Modal operasional adalah modalyang harus kita keluarkan untuk membayar biaya operasi
bulanan dari usaha kita. Contohnya, biaya gaji, telepon, listrik, dan air.
2. Mengetahui
Sumber Permodalan
Untuk memulai suatu
usaha, pada dasarnya sumber permodalan dapat diperoleh melalui:
a. Modal Sendiri
Sumber modal sendiri
merupakan cara yang paling mudah. Kebutuhan modal dibiayai sendiri. Sumber pembiayaan sendiri dapat diperoleh
dari tabungan, dana cadangan, atau mempergunakan
aset yang tidak produktif.
b. Pinjaman Bank
Apabila modal sendiri ternyata tidak mencukupi, maka kita dapat memenuhi
kebutuhan modal dengan melakukan pinjaman atau mengajukan kredit pada bank. Pada
dasarnya, ada tiga jenis kredit perbankan, yaitu:
1). Kredit usaha, yaitu kredit
yang ditujukan untuk membiayai usaha yang produktif. Kredit usaha ini pada
umumnya untuk memenuhi kebutuhan modal kerja, seperti usaha perdagangan, usaha
industri rumah tangga, usaha jasa konsultasi, dan lain-lain.
2). Kredit konsumsi, yaitu
kredit yang digunakan untuk membeli sesuatu yang sifatnya konsumtif, misalnya
untuk membeli rumah atau kendaraan pribadi.
3). Kredit serba guna, yaitu
kredit yang bisa digunakan untuk tujuan konsumsi maupun usaha. Salah satu
produk kredit serba guna yang sering dipasarkan adalah kredit tanpa agunan.
Sumber : Buku
Kewirausahaan "Membangun Usaha Sukses Sejak Usia Muda", Salemba Empat
2011, Jakarta (Universitas Mercu Buana)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar